Kondisi trotoar di Jalan Haji Ung, Kemayoran, Jakarta Pusat (Foto: Parboaboa/Michael S)

Trotoar Rasa Lapak Jualan, Dikuasai Pedagang Hingga jadi Area Parkir

Rini | Metropolitan | 06-10-2022

PARBOABOA, Jakarta - Kota Jakarta belum ramah bagi pejalan kaki, kelompok ini sering kalah dengan pedagang yang menguasai lokasi, hingga kerap dijadikan areal parkir dan jadi lintasan kendaraan roda dua.

Amatan PARBOABOA di Jalan Casa, Kemayoran, Jakarta Pusat tepat di depan Grand Palace Apartment, trotoarnya berubah menjadi tempat berjualan, ada pedagang yang menggelar terpal sebagai tempat lesehan.

Bergeser ke Jalan Kemayoran Gempol, disini hampir seluruh trotoar dikuasai pedagang untuk berjualan barang bekas (rongsokan), ban, hingga kuliner. Kemudian ke Jalan Bendungan Jago, kondisi trotoar justru sangat memprihatinkan, ada beberapa titik yang berlubang.

Kondisi yang sama di dapati di Jalan Haji Ung Raya, kondisi trotoar bagus, tapi tertutup pedagang kaki lima dan jadi tempat parkir sepeda motor.

Warga di Jalan Bendungan Jago, Jakarta, Suryana mengeluh karena kondisi trotoar yang rusak sudah berlangsung lama, namun belum diperbaiki hingga sekarang.

“Diperbaikilah, supaya nyaman jalan kaki,” ucap kepada Parboaboa, Rabu, (06/10).

Sementara itu, seorang murid sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jakarta, Awanis mengatakan, setiap hari dia harus bertaruh nyawa saat berjalan kaki, karena sering berpapasan dengan pengendara roda dua yang tiba-tiba naik ke atas trotoar.

“Khawatir sih, karena di sini kendaraannya cepat-cepat,” ucapnya.

Ketua RT 4 RW 2 Utan Panjang, Kec. Kemayoran, Asmono mengatakan, trotoar di Jalan Haji Ung baru dibangun tiga tahun lalu dan jarang digunakan pejalan kaki.

“Ini emang tidak pernah untuk jalan orang,” ucapnya.

Asmono sebagai ketua RT yang seharusnya berperan untuk mensosialisasikan fungsi trotoar kepada pedagang, malah menjadi salah satu oknum yang ikut menggelar dagangan hingga menutup trotoar.

Willayah Prioritas

Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus menilai jika daerah Kemayoran harus masuk skala prioritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena volume pejalan kaki di wilayah ini tinggi dan sering menjadi tempat penyelenggaran acara, baik nasional hingga internasional dan nasional.

Alfred menyebut jika Jakarta belum ramah bagi pejalan kaki. “Di daerah Kemayoran (volume pejalan kaki) menurut saya cukup tinggi, harusnya mendapat prioritas,” ucapnya saat dihubungi lewat telepon, Rabu (06/10).

Dia memaparkan, di era Anies Baswedan, Pemprov DKI membuat komitmen untuk membangun 2.600 kilomete trotoar, namun terhalang anggaran, karena diprioritaskan ke pembangunan lainnya. “Jadi mereka kan hanya bisa membangun dengan anggaran yang ada,” lajutnya lagi.

Agar trortoar bebas dari pengalihan fungsi, Alfred menyebut jika pemerintah kota harus konsisten dalam menindak pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di area trotoar dan tidak hanya menunggu saat masalah menjadi viral dahulu baru bertindak.

“Masalah penegakan hukum itu hampir di banyak daerah kalau belum viral, itu belum dilakukan penidakan,” katanya menyayangkan.

Menurutnya, penegakan hukum harus dilakukan setiap hari, walau hanya melibatkan satu atau dua orang aparat saja. “Kalau belum viral, belum heboh. Ini seakan-akan kita skip dulu nih, nanti tunggu viral aja, baru nanti kita turun sama-sama melakukan penindakan hukum,” ucapnya.

Saat menertibkan PKL, Alfred memberi saran agar dilakukan dengan cara yang lebih persuasif. Tidak hanya merampas dagangan para pedagang, tapi memberikan solusi dengan memberikan tempat yang tidak melanggar aturan.

“Jadi tidak hanya ditertibkan, dirampas dagangannya. Tapi juga harus dikasih solusi,” ucapnya.

Tag : #trotoar di jakarta    #jakarta    #metropolita    #pedagang kaki lima    #koalisi pejalan kaki    #kemayoran    #jakarta pusat   

Baca Juga