Tanggapan Pemerintah Soal RI Yang Disebut Episentrum Covid

By Maraden Sidabalok 21 Jul 2021, 10:43:07 WIB Politik
Tanggapan Pemerintah  Soal RI Yang Disebut Episentrum Covid

Keterangan Gambar : Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.


PARBOABOA, Jakarta – Beberapa waktu lalu Indonesia disorot media asing karena lonjakan kasus COVID-19. Indonesia bahkan dijuluki sebagai pusat penyebaran COVID-19 dunia, mengalahkan India.

Pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menanggapi hal tersebut, pemerintah telah mengambil sejumlah kebijakan untuk menekan angka penularan, diantaranya dengan penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat yang sudah berlangsung sejak 3 Juli 2021 lalu.

Kebijakan PPKM darurat ini diklaim Wiku telah memberikan dampak baik berupa penurunan angka kasus. Hanya saja, ia mengakui bahwa ini belum cukup.

Baca Lainnya :

Wiku menekankan bahwa dibutuhkan upaya yang lebih keras untuk memastikan penularan Covid-19 telah terkendali. 

"Pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat akan berupaya keras agar secepatnya angka kasus di Indonesia dapat segera menurun dan terkendali," kata Wiku dalam keterangan pers, Selasa (20/7).

Menanggapi pemberitaan media massa di luar negeri, Wiku meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Wiku juga mengimbau masyarakat agar serius menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan mengurangi aktivitas yang berisiko terhadap penularan COVID-19 agar peluang penularan akan semakin rendah.

Seperti diketahui, tren lonjakan kasus Covid-19 harian menunjukkan penurunan. Setelah mencatatkan angka tertingginya yakni 56.757 kasus positif per 15 Juli 2021, kini angkanya mulai turun. Dalam tiga hari terakhir, angka kasus harian rata-rata bawah 50.000 per hari.

Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah tren penurunan ini dibarengi dengan penelitian yang ikut turun. Dalam tiga hari terakhir, jumlah spesimen yang diperiksa setiap harinya tak pernah lewat 200.000 spesimen per hari. Jumlah orang yang dites juga tak pernah melebihi 150.000 orang per harinya.

Angka-angka tersebut jauh di bawah kapasitas penelitian pekan lalu yang tembus 250.000 spesimen per hari.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment