Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk (KAEF) David Utama dalam acara Media Gathering di Pabrik PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP), Senin (03/10/2022) (Foto: Bisnis/Dewi Fadhilah Soemanagara)

PT Kimia Farma Kurangi Impor Bahan Baku Obat di Tahun 2024

Anna Aritonang | Kesehatan | 04-10-2022

PARBOABOA, Jakarta - Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk (KAEF) David Utama memastikan akan mengurangi impor Bahan Baku Obat (BBO) hingga 20 persen melalui kerja sama dengan anak usaha PT Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) yang merupakan hasil sinergi dengan perusahaan farmasi asal Korea Selatan.

"Dengan kerja sama ini, Indonesia mampu mengurangi impor BBO di tahun 2024 bisa turun 17-20 persen," ujar David dikutip dalam keterangan, Senin (03/10/2022).

Dalam hal itu, David menargetkan akan memproduksi 28 BBO di tahun 2024, dimana awal mulanya sejak berdiri di tahun 2016 sudah memproduksi 12 BBO yang memenuhi standar Good Manufacturing Practices (GMP), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan sertifikasi halal.

"Kita sudah menciptakan 12 BBO, kalau dilihat program pemerintah kedepannya itu kita harus melengkapi hinga 28 BBO, masih in progress dan ini sudah ada strukturnya," ujarnya.

Adapun 12 BBO yang sudah diproduksi oleh KFSP telah dilengkapi dengan sertifikat GMP dari BPOM sehingga siap digunakan untuk seluruh industri farmasi dalam negeri, diantaranya adalah sebagai berikut:

•    3 BBO anti kolesterol yaitu Simvastatin, Atorvastatin, dan Rosuvastatin
•    1 BBO anti platelet untuk obat jantung yaitu Clopidogrel
•    2 BBO anti virus Entecavir dan Remdesivir
•    4 BBO Antiretroviral (ARV) untuk HIV/AIDS, yaitu Tenofovir, Lamivudin, Zidovudin, dan Efavirenz
•    1 BBO untuk diare, yaitu Attapulgite
•    1 BBO untuk antiseptik dan disinfektan, yaitu Povidone Iodine

Selain itu, Direktur Utama PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia Pamian Siregar mengatakan, dengan adanya Pabrik Bahan Baku Obat ini, nantinya secara komersial BBO akan diserap oleh Kimia Farma, namun ada juga perusahaan-perusahaan farmasi lain yang akan menyerap, seperti Dexa Medica, Phapros, Novell Pharmaceutical, Pyridam Farma, dan Fahrenheit Indonesia.

“Kalau kita tidak menyiapkan seperti itu, ke depannya ini menjadi tantangan buat Indonesia, kalau sampai ada pandemi lagi di tahun 2024 akan menjadi kritikal buat kita. Kita juga mengutamakan untuk memastikan industri farmasi kita terlindungi, tapi yang terpenting adalah kemandirian, ketahanan nasional yang kita jaga,” tegasnya.

Tag : #kimia farma    #bahan baku obat    #kesehatan    #kaef    #pt farma sungwun pharmacopia    #kfsp   

Baca Juga