Foto hanya ilustrasi yang diambil saat pengamanan pemilu di Jakarta 16 Oktober 2014 (Bay Ismoyo/AFP)

Gesekan Antara Oknum TNI vs Polri di Indonesia

Andre | Nasional | 30-11-2021

PARBOABOA - Peristiwa bentrokan antara oknum tentara dengan oknum polisi sudah tak lagi asing di telinga masyarakat Indonesia. Pembahasan kali ini merangkum tiga kejadian yang terjadi di penghujung bulan November 2021 beserta kilasan balik tentang kasus-kasus yang serupa.

Oknum yang terlibat perselisihan ini sangat menyita perhatian publik. Bagaimana tidak? Pasalnya oknum tersebut berada dalam institusi yang memiliki pengaruh dan kekuatan besar pada sektor keamanan dan ketertiban negara.

Bahkan dalam rentang waktu seminggu ini, ada 3 kasus bentrok yang terjadi seolah melengkapi daftar bentrokan sesama aparat berseragam di Indonesia yang sudah berlangsung sejak lama.

Padahal jika dilihat dari tampilan pejabat elitya, mereka terlihat akur dan sering tertawa bersama dan telah mengupayakan berbagai hal untuk menjalin keakraban dengan tujuan menghindari konflik. Akan tetapi di level akarnya (berpangkat rendah) bagaikan kepala korek yang mudah membara saat terkena gesekan.

Menurut catatan, bentrok antara oknum TNI dan Polisi sering terjadi akibat hal-hal sepele seperti penilangan yang terjadi di jalanan, masalah “backing backingan”, masalah perempuan atau bahkan cuma senggolan di jalan.

Hal-hal sepele tersebut kerap berujung pada penyelesaian adu otot layaknya hukum rimba yang berakibat pada terlukanya salah satu pihak, bahkan berujung maut.

Dibawah ini adalah 3 kasus bentrokan yang terjadi dalam seminggu belakangan yang melibatkan antarkesatuan TNI atau lintas TNI vs Polri.

Kopassus vs Brimob di Papua

Sebuah video bentrokan antara Kopassus dan Brimob di lokasi Ridge Camp Pos RCTU Mile 72, tepatnya di depan Mess Hall, Timika Kabupaten Mimika, Provinsi Papua terekam oleh kamera dan tersebar di media sosial pada Sabtu (27/11/2021).

Rekaman video tersebut memperlihatkan sejumlah anggota Satgas Nanggala Kopassus dan anggota polisi Satgas Amole terlibat cekcok yang dipicu oleh masalah harga rokok.

Kejadian tersebut berawal dari enam anggota Satgas Amole Kompi 3 yang sedang berjualan rokok di sekitaran pos RCTU Mile 72.

Kemudian, sekitar 20 personel Kopassus datang dengan maksud membeli rokok yang mereka jual. Namun anggota Kopassus komplain mengenai harga rokok itu.

Sempat terlibat cekcok yang kemudian berubah menjadi insiden pengeroyokan terhadap 6 anggota Satgas Amole Kompi 3. Pengeroyokan tersebut melibatkan benda tumpul dan tajam yang mengakibarkan 5 anggota Brimob terluka.

"Selanjutnya, pengeroyokan dengan menggunakan benda tumpul dan tajam terhadap enam personel Amole Kompi 3 Penugasan," ucap Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal, Senin (29/11/2021).

Saat yang bersamaan, personel Brimob lainnya yang berada di lokasi Pos RCTU menyisir lokasi kejadian dan melepaskan 2 kali tembakan ke udara guna menyelamatkan rekan rekan yang terluka.

Ke 5 anggota Brimob yang menjadi korban diantaranya yaitu Bripka Risma, Bripka Ramazana, Briptu Edi, Bharaka Heru Bharatu Munawir dan Bharatu Julianda.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri dan menuturkan bahwa masalah tersebut sudah diselesaikan.

“Iya, kemarin ada insiden kecil, Itu hanya salahpaham saja. Intinya sudah diselesaikan,” tandasnya.

Sebagai kilasan, tahun lalu, konflik juga terjadi di Papua, tepatnya di Kabupaten Mamberamo Raya pada Minggu (14/04/2020). Konflik tersebut menewaskan 3 orang polisi dan dua lainnya mengalami luka-luka akibat tembakan yang dilakukan oleh anggota TNI.

Baku Hantam Marinir vs TNI AD

Pada Sabtu 27 November 2021, sebuah video beredar luas di sosial media yang memperlihatkan aksi baku hantam antara oknum anggota TNI AD dari Batalyon Infanteri Raider Khusus 136/Tuah Sakti dengan oknum TNI AL dari Batalyon 10 Marinir.

Perkelahian tersebut terjadi di Jembatan Balerang, Batam. Yang menyita perhatian publik adalah adanya anak-anak yang ketakutan akibat peristiwa itu.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Penerangan AL Laksamana Pertama Julius Widjojono membenarkan insiden keributan antara anggota marinir dan raider TNI AD tersebut.

“Iya insiden itu ada. Kejadiannya pada 27 November kemarin,” kata Julius, dikutip dari JPN, Senin (29/11).

Julius juga mengatakan bahwa keduanya telah berdamai saat dipertemukan kembali.

Meski telah berdamai, kedia oknum tersebut tetap akan ditindak sesuai aturan TNI yang berlaku.

1 TNI vs 2 Polisi di Ambon

Seperti yang diberitakan PARBOABOA.com sebelumnya pada Kamis (24/11/2011), sebuah video mendadak viral di kalangan masyarakat.

Video tersebut menampilkan perkelahian antara dua polantas dan satu oknum anggota TNI di Kota Ambon, Maluku pada Rabu (24/11) sore.

Peristiwa itu bermula setelah petugas Polantas melakukan penilangan terhadap seorang pengendara yang kemudian pengendara tersebut melapokan penilangan yang dialaminya kepada saudaranya yang merupakan seorang anggota TNI.

Dalam video berdurasi 26 detik itu, terlihat dua orang anggota Polri berpakaian satlantas beradu jotos dengan anggota TNI. Dua polantas itu sempat tersungkur usai dihantam anggota TNI.

Kemudian seorang anggota TNI lainnya yang sedang melintas langsung berhenti dan mendatangi rekannya yang sedang berkelahi. Namun, anggota TNI yang awalnya adu jotos tetap melanjutkan aksinya dengan menghantam dua polantas.

Setelah kejadian tersebut, ketiga orang yang terlibat dalam perkelahian dipertemukan di kantor Pomdam Pattimurapada Rabu (24/11/2021) malam.

Kasus tersebut pun berakhir damai dan kedua belah pihak saling memafkan.

Terjadi Berulang Kali

Kejadian cekcok hingga pertengkaran seperti ini kerap terjadi di bumi pertiwi Indonesia. Bahkan sebelum peristiwa di atas terjadi, catatan Kontras mengungkapkan ada 19 konflik yang terjadi antara TNI dan Polri dimasa kepemimpinan Jendral Hadi (2017-2021).

Tercatat ada 26 korban baik itu terluka maupun meninggal dunia, diantaranya 6 dari pihak TNI dan 20 dari pihak Polri sepanjang 2017 hingga 2020. Namun, yang menjadi pusat perhatin adalah penyerangan yang terjadi di Polsek Ciracas, Jakarta Timur yang dilakukan sejumlah anggota TNI AD.

Kejadian tersebut berlangsung pada Sabtu (29/8/2020), kala itu para tentara merusak sejumlah mobil, sepeda motor, fasilitas polsek, dan melukai dua polisi.

Peristiwa tersebut bermula saat seorang anggota Satuan Direktorat Hukum TNI AD, Prada Ilham menyebar berita palsu kepada rekan-rekannya. 

Ilham mengatakan bahwa dirinya dikeroyok oleh polisi, padahal luka yang diterimanya akibat kecelakaan tunggal disebabkan oleh pengaruh minuman keras.

Akibat peristiwa tersebut, sebanyak 67 anggota TNI dijatuhi hukuman penjara dan beberapa diantaranya dipecat.

Tercatat, sebelumnya kejadian yang sama juga pernah menimpa Polsek Ciracas pada 2018 silam. Pemicunya adalah seorang anggota TNI yang dikeroyok oleh juru parkir swalayan. Akibat pengeroyokan tersebut, Mapolsek Cirasas dibakar oleh sejumlah massa yang tak dikenal dan melukai empat orang polisi.

Catatan Kontras juga pernah melaporkan ada sebanyak 26 konflik yang terjadi antara oknum TNI-Polri sejak 2005 hingga 2012.

Atas kejadian tersebut, setidaknya empat personil TNI tewas, sedangkan personil Polri yang tewas sebanyak 7 orang.

Tak hanya itu, 32 personil Polri tercatat mengalami luka atas bentrok tersebut, sementara personil TNI sebanyak 15 orang.

Jika diulas lebih mendalam, sebenarnya ada banyak catatan kelam mengenai perselisihan yang kerap terjadi di jajaran bawah kedua institusi terpandang ini.

Bentrokan seperti ini akan merusak citra Republik Indonesia sebagai negara hukum. Terlebih pelanggaran hukumnya dilakukan oleh penegak hukum itu sendiri, atau gesekan antar aparat juga jelas-jelas menggangu solidaritas dan intergritas aparat negara, juga ketertiban umum.

Seperti yang sudah disinggung diatas, bahwa para pemimpin kedua Instansi ini sudah mengusahakan segala hal untuk meredam konflik yang terjadi, namun masih saja kecolongan oleh oknum-oknum yang lalai dalam menjalankan kewajibannya.

Terlebih di situasi pandemi seperti sekarang, sinergi TNI-Polri sangat dibutuhkan sebagai garda terdepan untuk menjaga pertahanan dan keamanan NKRI sekaligus bertujuan untuk kebaikan dan kemajuan bangsa.

“Saudara harus memegang teguh kode etik perwira dan jati diri sebagai perwira TNI dan Polri. Junjung tinggi kehormatan dan kecintaan sebagai perwira TNI dan Polri. Pelihara kekompakan dan persatuan sesama perwira TNI dan Polri dengan tetap menghormati fungsi dan tugas masing-masing dan melangkah lah ke gelanggang pengabdian dengan tegar, dengan optimisme, dan penuh rasa percaya diri,” pesan Presiden dalam upacara Prasetya Perwira (Praspa) TNI-Polri Tahun 2021 yang digelar di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (13/07/2021).

Tag : #oknum    #tni    #polri    #brimob    #kopasus    #ambon    #batam    #papua    #bentrok   

Baca Juga