Ilustrasi tes cacar monyet dengan PCR (Foto: Unsplash/Mufid Majnun)

Kasus Cacar Monyet Pertama di Indonesia, Bagaimana Cara Tesnya?

Sari | Kesehatan | 25-08-2022

PARBOABOA, Jakarta – Penyakit cacar monyet saat ini tengah menjadi perhatian serius di dunia. Kasus monkeypox pertama di Indonesia menyerang seorang pria berusia 27 tahun asal Jakarta. Diketahui pria tersebut baru saja melakukan perjalanan dari luar negeri.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung melaporkan temuan tersebut, setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan kemudian dinyatakan positif terpapar cacar monyet.

Tentunya untuk memastikan seseorang terinfeksi cacar monyet memang harus dilakukan dengan tes. Sama seperti pasien Covid-19, tes dilakukan dengan mengambil sampel yang kemudian diuji di laboratorium khusus.

Lantas, bagaimana cara menentukan seseorang positif atau negatif cacar monyet?

Ketua Satgas Monkeypox Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Hanny Nilasari mengatakan, ada dua tes yang bisa dilakukan pasien suspek cacar monyet untuk menentukan status penyakit yang diderita.

"Ada dua, pertama PCR melalui tenggorokan, orofaring, dan kedua, melalui lesi kulit," kata Hanny beberapa waktu lalu.

1. Tes PCR Orofaring

Tidak berbeda dengan tes swab PCR pada pasien Covid-19, tes cacar monyet dengan swab orofaring juga mengambil sampel dari dinding tenggorokan.

Kemudian, cairan akan dites di laboratorium khusus untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien positif monyekpox.

2. Tes dengan Sampel dari Cairan Luka Lenting dan Ruam

Penelitian spesimen pada lesi kulit menjadi tes yang memberikan hasil paling akurat. Biasanya, sampel diambil dari lesi atau ruam yang ada di tubuh pasien.

Hanny menjelaskan, Lesi adalah kerusakan atau ketidakharmonisan setiap bagian atau jaringan di dalam tubuh. Khusus pada kasus cacar monyet, lesi ini berbentuk luka bernanah yang muncul di berbagai bagian tubuh.

“Lesi kulit itu yang paling tinggi sensitivitasnya jika dibandingkan dengan pemeriksaan orofaring (tenggorok)," kata Hanny.

Sampel yang diambil pada lesi baru akan lebih akurat hasilnya, kata Hanny, karena virus yang terdeteksi akan semakin banyak.

"Biasanya kalau hasil tes orofaring negatif, tapi hasil tes lesi positif ini bisa dipastikan kalau pasien memang terkena cacar monyet," katanya.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Muhammad Syahrir mengungkapkan, sampai saat ini, baru ada dua laboratorium di Indonesia yang bisa mendeteksi cacar monyet. Namun, dalam waktu dekat, ada 10 laboratorium yang akan siap melakukan pemeriksaan sampel.

“Nah, pemeriksaan, saat ini ada dua ya di Indonesia, yang pertama adalah di laboratorium rujukan nasional BKPK Kementerian Kesehatan, yang kedua di laboratorium Institut Pertanian Bogor, dalam proses sekarang sudah akan ditambah sepuluh laboratorium yang ditingkatkan untuk melakukan pemeriksaan PCR sesuai dengan pintu masuk-pintu masuk yang diharapkan menjadi kewaspadaan kita,” ujar Syahrir dalam konferensi pers yang digelar lewat Zoom call, Sabtu (20/8/2022).

Syahrir menegaskan, Kemenkes sudah menyiapkan ribuan reagent untuk rumah sakit-rumah sakit di provinsi agar dapat melakukan pemeriksaan sendiri, tanpa harus mengirim sampel pasien ke laboratorium di Jakarta.

Tag : #cacar monyet    #monkeypox    #kesehatan    #tes cacar monyet    #satgas monkeypox    #tes orafaring   

Baca Juga